Waspada Penyakit Pasca Banjir – PR PB IDI


Sumber : Website IDI

Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) memperkirakan Kawasan DKI mulai memasuki musim hujan pada bulan Nopember 2007 dan puncaknya pada bulan Desember 2007 dan Januari 2008. Dijelaskan pula oleh BMG tentang kemungkinan tingginya curah hujan yang dapat berpotensi banjir di beberapa tempat yang menjadi wilayah rawan banjir.

Banjir di Jakarta seakan menjadi agenda tahunan. Setiap musim hujan, walau dengan intentitas yang ringan banjir tetap saja terjadi. Menoleh pada pengalaman awal tahun 2007, dimana banjir melanda Jakarta sehingga mengakibatkan hampir 80% wilayah Jakarta terendam banjir dan di beberapa tempat ketinggiannya mencapai 3 meter. Banjir tahun 2007 juga mendatangkan kerugian yang sangat besar.

Dampak yang ditimbulkan akibat banjir sangat besar sehingga pemerintah tentu tidak mampu mengatasi sendirian. Oleh karena itu perlu dukungan berbagai pihak yang secara sinergi mengatasinya.

Mulai dari fase preparedness ( kesiapsiagaan), fase impact (saat kejadian) dan rehabilitasi/rekonstruksi terutama mengantisipasi terhadap penyakit-penyakit pasca banjir yang sering meningkat dan mengakibatkan kematian. Untuk itu, belajar dari munculnya berbagai penyakit yang menyusul setelah banjir besar yang melanda Jakarta pada tahun 2002, kemudian awal tahun 2007 lalu, kita harus tetap bersikap awas sebagaimana saat kita menghadapi bencana banjir.

Ada berbagai penyakit setelah banjir yang harus diantisipasi yaitu tetanus, leptospirosis, diare, demam berdarah, dermatitis (gatal-gatal), psikosomatis, dll. Penyakit leptospirosis disebabkan oleh bakteri leptospira yang berbentuk spiral dan disebabkan antara lain oleh kencing tikus. Air kencing tikus yang terinfeksi bakteri leptospira ini terbawa air kotor saat banjir, kemudian masuk ke dalam tubuh manusia melalui bagian kulit yang terluka. Bisa juga bakteri leptospira ini menempel pada makanan kemudian disantap oleh manusia.

Berjangkitnya berbagai penyakit sangat muda difahami sebab ketika banjir terjadi maka lingkungan menjadi kotor, sampah berserakan dimana-mana, genangan air bercampur lumpur, tikus dan kecoa berkeliaran, nyamuk berkembang biak, sarana MCK terbatas (terutama air bersih), cuaca dingin, dst. Kondisi semacam ini tentu sangat mendukung berkembang dan berjangkitnya penyakit. Ditambah lagi dengan kondisi fisik dan psikis warga yang tidak kondusif

Penanganan banjir beserta dampak yang mengikutinya merupakan satu kesatuan yang tak dapat berdiri sendiri-sendiri. Oleh karena itu, maka kita perlu melakukan berbagai upaya yang secara terkoordinasi, terukur dan sistematis, misalnya: pengadaan tenda dan perahu karet untuk evakuasi; air bersih dan sarana MCK lainnya; sabun cuci tangan; persediaan makanan dan minuman; pakaian dan selimut; pos kesehatan (sdm, persediaan obat, dll); alat berat dan alat pembersih lumpur/sampah; kantong sampah, dll. Karena itu, perlu peran serta semua pihak, termasuk pers terutama untuk memberi penyuluhan tetang penyakit pasca banjir serta bagaimana pencegahan dan penanggulangan penyakit tersebut secara dini.

PB IDI melalui Komite Penanggulangan Bencana IDI sudah melakukan koordinasi dengan IDI Wilayah DKI dan IDI Cabang se-Jadetabek agar mempersiapkan SDM dokter serta berkoordinasi dengan perawat, bidan, mahasiswa kedokteran, Ikatan Isteri Dokter Indonesia (IIDI), Forum Wartawan Kesehatan dan potensi masyarakat lain dalam rangka persiapan dan pendirian pos-pos kesehatan di beberapa titik rawan banjir. Sebagaimana saat banjir Februari 2007 lalu, saat ini pun PB IDI secara khusus bekerjasama dengan LAPI ITB dalam pengadaan mobil unit Instalasi Penyaringan Air (IPA) produk LAPI ITB. Mobil unit IPA akan dikirim ke tempat-tempat yang membutuhkan sesuai situasi dan kondisi yang ada.

Bagaimanapun, menyelamatkan kehidupan manusia merupakan yang terpenting di atas semua hal. Faktor kehidupan manusia inilah yang harus mendapatkan perhatian dan penanganan secara serius. Untuk itu perlu diingat bahwa dalam menghadapi bencana — sebesar dan sesulit apapun pemerintah dan seluruh potensi masyarakat harus kompak menghadapi dan menangani bencana dan segala dampak-dampaknya.

Jakarta, 8 November 2007

Ketua Umum PB IDI
DR. Dr. Fachmi Idris, M.Kes

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Komentar Terbaru

    dr Anis di Bukti kemajuan kesehatan pasie…
    Yayan sudiarna di Bukti kemajuan kesehatan pasie…
    Yayan sudiarna di Bukti kemajuan kesehatan pasie…
    Andre Widjaja di Halo !
    nike m di Bukti kemajuan kesehatan pasie…
  • Statistik Blog

    • 117,462 hits
  • Add to Technorati Favorites

  • My blog is worth $3,951.78.
    How much is your blog worth?

  • Buku-buku :

  • %d blogger menyukai ini: